Berita Desa Internasional Investigasi Paralegal

Cara Allah Mencintai Hamba-Nya, Niscaya Allah Akan Melindungi Menolong dan Menjaga Kita

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Madiun,Sinarpolitan.com-Hidup itu adalah sebuah pengabdian, dan pengabdian itu membutuhkan perjuangan. Dalam setiap perjuangan pasti ada pengorbanan. Oleh karena itu, harus selalu ada target dan tujuan dalam setiap langkah kita. Dan tak sedikit dari tujuan itu tertunda atau bahkan luput dari kita, meskipun tujuan itu berupa kebaikan atau sesuatu yang nantinya kita niatkan sebagai sarana kebaikan. Ingin segera kaya agar bisa sedekah, ingin segera sembuh dari sakit agar kuat menjalankan ibadah, atau ingin berhaji menyempurnakan rukun Islam tetapi belum diberi kemampuan.Minggu, 29 agustus 2021.

Namun demikian kita tak perlu patah semangat saat tujuan baiknya belum terpegang. Bisa jadi Allah ingin kita lebih gigih lagi untuk berjuang, sehingga dengan itu Allah berikan pahala atas kesungguhan dan kesabaran, atau bahkan dengan itu Allah hendak menjaga hati kita dari kotoran, yang jika hari ini tujuan kebaikan dalam genggaman boleh jadi ada ujub yang justru menihilkan pahala kesungguhan. Selagi kita menjaga hak Allah, niscaya Allah menjaga kita ‘ihfadzhillaha yahfadzka’ bahwa menjaga hak Allah dalam hal perintah, harus kita kerjakan. Demikian juga dalam hal larangan yang harus kita tinggalkan. Selagi ini yang kita kerjakan, niscaya Allah akan melindungi, menolong dan menjaga kita. Dan penjagaan yang paling berfaedah bagi kita adalah penjagaan iman, agar ia tetap bersemayam di hati, dan terus bertambah kadarnya dan semakin terang cahayanya.

Karena Allah Maha Tahu tentang keadaan hati para hamba-Nya, maka Dia menjaga dengan cara-Nya, meskipun cara itu tidak langsung dimengerti oleh hamba-Nya. Di antara hamba Allah ada yang terjaga keimanannya di suatu kondisi dalam keadaan fakir, yang jika dihamparkan banyaknya harta untuk dirinya saat itu, niscaya akan rusaklah imannya, maka Allah menjaganya dengan cara menunda pemberiannya hingga saat yang paling tepat. Ada pula di antara hamba-Nya yang terjaga keimanannya ketika diberi kekayaan, yang jika dia ditimpa kefakiran niscaya imannya akan rusak. Di antara hamba Allah ada yang imannya terjaga dengan diuji sakit, yang seandainya ketika itu dia dalam keadaan sehat, maka akan rusaklah imannya, atau dia akan menggunakan sehat untuk maksiat.

Di antara hamba Allah itu ada pula yang punya keinginan menjalankan sebagian jenis ibadah, namun Allah belum memperkenankannya, Karena Allah hendak menghindarkan ia dari ujub yang akan merusak pahala amalnya. Seperti orang yang belum berkesempatan untuk berhaji, tak selalunya ia dalam kondisi buruk. Begitu pula tentang jabatan dan pangkat, namun yang jelas Allah mengatur dan mengurus hamba-Nya sesuai dengan ilmu-Nya, sedangkan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Tetaplah husnudzhan, berprasangka baik kepada Allah, niscaya yang kita panen adalah kebaikan.

Keinginan terbesar kita sebagai seorang muslim dan muslimah yang taat ialah ingin mendapatkan kasih sayang dari Allah. Setiap orang mukmin pasti ingin dicintai dan disayangi Allah karena ketika Allah telah begitu cinta dan sayang kepada hamba-Nya, maka seluruh penghuni langit dan bumi pun akan mencintai dan menyayanginya juga. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi SAW :
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ. (رواه البخاري)
_“Sesungguhnya Allah SWT jika mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil malaikat Jibril dan berkata : “Wahai Jibril, Aku mencintai orang ini maka cintailah dia !” Maka Jibril pun mencintainya, lalu Jibril mengumumkannya kepada seluruh penduduk langit dan berkata : “Wahai penduduk langit, sesungguhnya Allah mencintai orang ini, maka cintai pulalah dia oleh kalian semua, maka seluruh penduduk langit pun mencintainya. Kemudian orang itu pun dicintai oleh segenap makhluk Allah di muka bumi ini.”_ (HR. Bukhari).

Allah Swt. menghendaki setiap hamba-Nya, untuk mendapatkan kasih sayang-Nya ataupun tidak sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi.
إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
_“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba, Dia akan segerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga akan ditunaikan pada hari kiamat kelak.”_ (HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih kata Syaikh Al Albani).

Sekilas manusia berfikir bahwa kasih sayang pasti selalu berupa tentang kebaikan dan rezeki yang melimpah. Namun, benarkah kasih sayang Allah itu selalu berupa kebaikan di dunia? Untuk mendapatkan jawabannya mari kita simak hadits di atas. Setiap hamba pasti memiliki kesalahan-kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Ketentuan Allah pada hamba-Nya berbeda-beda. Ada yang balasan kesalahannya tersebut langsung tampak di dunia. Ada pula hamba yang sering melakukan kesalahan tapi tidak pernah mendapatkan cobaan, karena Allah tunda balasan itu di akhirat.

Berdasarkan hadits shahih tersebut, bahwa ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya maka Allah segerakan hukumannya di dunia. Hal ini membuktikan bahwa setiap musibah yang mungkin pernah menimpa kita di dunia, boleh jadi merupakan balasan kesalahan kita yang telah lampau, dan inilah salah satu bukti Allah menghendaki kebaikan bagi diri kita.

Semoga bermanfaat Aamiin.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *