Berita Desa Internasional Investigasi Paralegal Politik

Mensyukuri Nikmat Mata

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Madiun,Sinarpolitan.com-Mata merupakan jendela. Bisa dijadikan sahabat sekaligus penuntun bagi hati. Mata mengirimi berita-berita yang dilihatnya ke hati. Kemudian, baru membuat pikiran kita berkelana karenanya. Mata adalah anugerah Allah SWT yang sangat berharga. Selasa (10/8/2021)
Mata adalah panglima hati. Hampir semua perasaan dan perilaku awalnya dipicu oleh pandangan mata. Karena itu, hendaknya mata selalu dibawa melihat hal-hal yang baik. Bila dibiarkan mata memandang hal-hal yang dibenci dan dilarang, maka pemiliknya berada di tepi jurang bahaya, meskipun ia tidak sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang. Demikian potongan nasihat Imam Ghazali rahimahullah dalam kitab Ihya Ulumuddin.

Mata adalah penuntun, sementara hati adalah pendorong dan pengikut. Yang pertama, mata memiliki kenikmatan pandangan. Sedangkan yang kedua, mata memiliki kenikmatan pencapaian. Keduanya sama penting, dan harus saling bekerja sama. ”Dalam dunia nafsu keduanya adalah sesuatu yang mesra. Jika terpuruk dalam kesulitan maka masing-masing akan saling mencela dan mencederai,” kata Ibnu Qayyim.

Di kala sendirian, kesepian, tak ada orang yang melihat perbuatan salah, itu adalah ujian yang akan membuktikan kualitas iman kita. Di sinilah peran mengendalikan mata dan kecondongan hati. Dalam suasana yang tak diketahui oleh orang lain, akan terlihat apakah seseorang itu imannya betul-betul tulus atau tidak. Inilah yang digambarkan oleh Rasulullah ketika beliau diminta menggambarkan apa itu ihsan, ”Hendaklah engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya yakinilah bahwa Ia melihatmu.

Dalam sebuah hadits dikisahkan, pada hari kiamat ada sekelompok orang yang membawa hasanat (kebaikan) yang sangat banyak. Bahkan, Rasul menyebutkan kebaikan itu bagaikan sebuah gunung. Tapi ternyata, Allah SWT tak memandang apa-apa terhadap prestasi kebaikan itu. Allah menjadikan kebaikan itu tak berbobot, seperti halnya debu yang beterbangan. Rasulullah menyatakan kondisi seperti itu karena mereka adalah kelompok manusia yang melakukan kebaikan ketika berada bersama manusia yang lain, tetapi tatkala dalam keadaan sendiri dan tak ada manusia yang lain yang melihatnya ia melanggar larangan-larangan Allah SWT (HR Ibnu Majah).

Mereka itu adalah orang-orang yang riya. Mereka berbuat kebaikan karena dilihat oleh orang lain, bukan ikhlas karena Allah SWT. Oleh karena itu, jagalah matamu dari empat perkara :

Pertama,Memandang wanita yang bukan mahram.

Janganlah engkau memandang atau menikmati setiap lekuk tubuh wanita (termasuk mata, rambut, dan kuku) yang bukan mahrammu dengan pandangan penuh syahwat. Apabila mereka berpakaian (menutup aurat) maka tidak apa-apa bagimu untuk memandangnya. Namun, jika tampak lekuk tubuhnya, janganlah engkau memandangnya, berdasarkan sabda Rasulullah : “Barang siapa memperhatikan bagian belakang tubuh wanita dari balik pakaiannya sampai tampak jelas lekuk tubuhnya maka ia tidak akan mencium harumnya surga.

Kedua,Memandang bentuk rupa (atau gambar) yang elok dan rupawan meskipun tanpa syahwat.

Dalam sebuah hadits disebutkan, bahwa suatu kaum pernah datang kepada Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam, sedangkan di antara mereka terdapat seorang pemuda tampan yang mulus wajahnya, maka Rasulullah mendudukkannya di belakang punggungnya. Kemudian beliau bersabda, ”Sesungguhnya fitnah yang menimpa Nabi Daud disebabkan dari pandangan.” Pandangan di sini berarti zinanya mata.

Terkait dengan hal ini, disebutkan riwayat Ahmad dalam Musnad-nya yang bersumber dari Abu Hurairah RA. dijelaskan bahwa Rasulullah SAW. bersabda: “Setiap keturunan Adam ada bagian yang dianggap sebagai zina; kedua mata dianggap berzina, dan zinanya adalah melihat [kepada yang haram]; kedua tangan dianggap berzina, dan zinanya adalah menyentuh [kepada yang haram]; kedua kaki dianggap berzina, dan zinanya adalah berjalan [ke tempat yang haram]; mulut dianggap berzina, dan zinanya adalah mencium [kepada yang haram], sementara hati berkeinginan dan berkhayal [melakukan zina itu] dan kemaluan pun membenarkannya atau mengingkarinya”

Ketiga, Memandang seorang muslim dengan pandangan menghina.

Ada beberapa wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Wasiat yang kita ulas adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah. Abu Jurayy berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah wasiat kepadaku.”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat :
لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا
“Janganlah engkau menghina seorang pun.

Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya :
وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ
_“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan. Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan. Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya._ (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Keempat,Memandang seorang muslim untuk mencari aib dan kekurangannya disebut tajassus.

Dalam kamus literatur bahasa Arab, misalnya kamus Lisan al-‘Arab karangan Imam Ibnu Manzhur, tajassus berarti “bahatsa ‘anhu wa fahasha” yaitu mencari berita atau menyelidikinya. Dari pengertian tersebut, maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa tajassus adalah mencari-cari kesalahan orang lain dengan menyelidikinya atau memata-matai. Dan sikap tajassus ini termasuk sikap yang dilarang dalam Al-Quran maupun hadits. Allah Ta’ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (Al-Hujurat : 12)

Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala melarang kita untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Entah itu dengan kita menyelidikinya secara langsung atau dengan bertanya kepada temannya. Tajassus biasanya merupakan kelanjutan dari prasangka buruk sebagaimana yang Allah Ta’ala larang dalam beberapa kalimat sebelum pelarangan sikap tajassus. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.

Semoga bermanfaat Aamiin.
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *