Berita Desa Internasional Investigasi

Ulah Orang Madiun yang Dicatat Sejarah (bagian satu)

Madiun,Sinarpolitan.com-Tahun 1511 saat Portugis menguasai Malaka, mereka mendapati pertahanan Malaka dilengkapi dengan ribuan artileri anti personel (biasa disebut cetbang) bikinan para pelaut Jawa (bisa dibaca di bukunya Anthony Reid). Orang Nusantara memang sudah biasa bikin senjata api sendiri sejak abad 14.

Tidak heran jika di tahun 1590 saat Mataram menyerang Mancanegara Timur, mereka berhadapan dengan pasukan Madiun yang sudah dilengkapi dengan senjata api. Itu sebuah bukti bahwa Kadipaten Madiun peradabannya tergolong cukup modern di masanya.

Pasukan bertahan dipimpin oleh Retno Jumilah, gadis single puteri penguasa Madiun. Gadis itu dikisahkan cukup cantik. Wajar, dong. Ayahnya kan bangsawan yang bisa menikahi perempuan tercantik. Kenapa dia masih single, apakah masih di bawah umur? Belum tentu.

Konon dia hanya mau menikah dengan pria yang kesaktiannya minimal setara dengannya. Sepertinya itu yang bikin dia sulit dapat jodoh

Kembali ke pertempuran Mataram vs Madiun. Saat pertahanan Madiun jebol dan pasukannya nyaris tak tersisa, Retno Jumilah menantang raja Mataram untuk duel satu lawan satu.

Panembahan Senopati saat itu mengenakan Kyai Gundil Antakusuma, baju zirah warisan Sunan Kalijaga (menurut Babad, halaman 120). Armor itu mungkin yang berhasil menyelamatkan nyawanya dari tembakan pistol Retno Jumilah. Tapi dia tetap takut juga dengan Kyai Gumarang, keris pusaka Kadipaten Madiun yang jadi senjata pamungkas sang puteri.

Di sela duel Panembahan Senopati sempat mengajukan penawaran. Madiun yang mustahil menang biarlah menjadi bagian dari Mataram. Sang puteri diajak untuk bareng mengelolanya bersama wilayah Mataram lainnya. Pendeknya, Panembahan Senopati mengajukan lamaran pernikahan di tengah duel!

Melihat Retno Jumilah masih tetap melawan meskipun tenaganya nyaris habis, Panembahan Senopati menambahkan nilai tawarannya. Dia berjanji anak hasil pernikahan mereka kelak yang akan menggantikannya sebagai raja Mataram.

Sepertinya tawaran terakhir itu yang mengakhiri perlawanan Retno Jumilah. Keris Kyai Gumarang yang sangat mengerikan itu akhirnya dimasukkan ke warangkanya. Duel pun berakhir.

Retno Jumilah akhirnya dinikahi oleh Panembahan Senopati yang sebelumnya sudah memiliki permaisuri dari Pati. Kelak perkawinan mereka melahirkan putera yang bernama Pangeran Pringgalaya. Tapi di penghujung usianya Panembahan Senopati melanggar janjinya. Tahta diwariskan kepada Mas Jolang putera dari permaisuri pertama. Pangeran Pringgalaya tidak mempermasalahkan pelanggaran janji itu. Dengan jiwa besar dia mendukung terpilihnya si raja baru.

Begitu Mas Jolang resmi bertahta dengan gelar Panembahan Hanyakrawati, beberapa putera Senopati yang tidak puas dengan terpilihnya raja baru itu melancarkan pemberontakan. Pangeran Pringgalaya yang seharusnya merasa paling berhak atas tahta Mataram justru tidak ikut memberontak. Padahal dia berpeluang dapat dukungan besar mengingat nama besar ibundanya. Pangeran putera Retno Jumilah itu lebih memilih turun tangan membela keamanan negerinya dengan menumpas pemberontakan Pangeran Jayaraga.

Mendadak ingat pepatah yang populer di kalangan mafia Italia, “pria sejati itu menepati semua ucapannya dan membayar semua hutangnya.” Mungkin itu pula yang diajarkan Raden Ayu Retno Jumilah kepada puteranya Pangeran Pringgalaya.

Keterangan gambar: iseng-iseng melampiaskan imajinasiku terhadap tiga sosok istimewa dari Madiun. Dua pria di kanan kiri hidup di jaman berbeda. Dua abad setelah peristiwa Retno Jumilah, dua ayah dan anak dari Madiun itu gantian bikin semrawut kolonial Belanda akibat ulah mereka.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *