Internasional

Mari Kritisi Para Calon Kepala Daerah Kita PUNYA NASIONALISME Atau INDIVIDUALISME ? MAU MENGABDI Atau MAU KAYA?

Jakarta,Sinarpolitan.com-NegaraChina mencatat rekor sepanjang sejarah dunia, mengangkat 9 juta rakyatnya dari kemiskinan hanya dalam waktu 30 tahun sejak Presiden Deng Xiaoping membuka China dengan kebijakan Kaifeng-nya. Belum pernah ada negara dunia yang mencapai prestasi seperti ini. Mayoritas pemimpin dan aparat China memiliki nasionalisme yang tinggi. Mereka cinta negara dan ingin negara dan kehidupan bangsa mereka maju, terhormat dan damai sentosa. Dan mereka berani dan tegas menindak korupsi dan tindakan melanggar aturan.

Sedangkan di Indonesia, pemerintahan kita dipenuhi pejabat individualis yang tahunya bisa kaya cepat lewat kekuasaan. Banyaknya proyek APBD/APBN mangkrak atau tak bermanfaat adalah bukti jelas, banyak pejabat menganggap diri mereka mampu membangun seperti pebisnis dan investor. Motivasi mereka adalah menggunakan APBD/APBN tanpa betul-betul mencermati azas manfaat dan Pertanggungjawaban moralnya.

Dari segi kebijakan publik dan regulasi saja, banyak kepala daerah tak paham bagaimana menggait investor asing dan membuat mereka tertarik dengan daerah mereka. Konyolnya lagi, investor asing yang sudah berada di depan mata mereka pun, mereka tidak paham bagaimana harus bersikap. Paling pintar kalau minta saham kosong.

Ya, ampun deh…!

Mengapa nasionalisme penting bagi bangsa Indonesia? Hasil penelitian ISSP (International Social Survey Programme) yang berbasis di Norwegia pada tahun 1995 (melibatkan 23 negara) dan 2003 (melibatkan 34 negara) menunjukkan terdapat korelasi positif antara semangat kebangsaan dan tingkat kemakmuran sebuah bangsa. Artinya bahwa semangat kebangsaan, rasa memiliki akan bangsanya, dan berperilaku menunjukkan kesadaran akan bangsanya akan menjadi faktor penentu kesejahteraan dan kejayaan sebuah bangsa. Akan tetapi potret wawasan kebangsaan bangsa Indonesia, tahun 2015 Indonesia menempati urutan ke 95 dari 106 negara yang disurvei. Berdasar pada data ini, pantas bangsa Indonesia masih memiliki berbagai masalah yang serius terkait kesejahteraan warganya.

Perusak Nasionalisme

Tatanan kehidupan di daerah menunjukkan pemahaman dan pengamalan yang baik akan nilai-nilai kolektif sebagai bangsa dan negara. Tetapi ada sejumlah masalah yang dapat merusak tatanan nasionalisme yang telah terbangun di tengah-tengah masyarakat. Menurut hasil surveinya faktor-faktor yang dapat merusak nasionalisme di antaranya: membudayanya ketidak jujuran atau korupsi, kurangnya penegakan hukum, minimnya keteladanan pemimpin sehingga muncul rasa tidak puas pada pemerintahan, minimnya rasa persatuan, sikap fanatik kelompok dan SARA, lunturnya minat budaya dan produk lokal, kondisi perekonomian, dan individualisme atau gotong Royong memudar.

Tingkat korupsi yang tinggi, keteladanan yang rusak dari pemimpin, dan kurangnya penegakkan hukum menjadi faktor yang merusak nasionalisme. Indonesia masih menduduki tingkat korupsi yang memprihatinkan, yaitu sampai saat ini Indonesia menempati urutan yang 88 dari 168 yang diukur tingkat korupsinya (Corruption Perception Index, 2015, TI). Rilis Kejaksaan Agung (data tahun 2015) korupsi di lingkungan pejabat publik Indonesia di daerah yaitu sebanyak 331 orang Kepala daerah, 3.169 orang anggota DPRD, dan Pegawai Negeri sipil 1.211 orang. Termasuk 19 menteri dan pejabat lembaga negara masuk kubangan masalah korupsi. Secara khusus, kementerian dalam negeri memiliki data yang lebih banyak dibanding dengan Kejaksaan Agung tentang kepala daerah yang tersangkut korupsi yaitu 343 orang. Artinya sekitar 70 persen Kepala Daerah dan wakil Kepala Daerah terjerat kasus korupsi baik yang ditangani oleh kepolisian, kejaksaan, dan KPK.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *