Investigasi

Kendaraan R2 Nyalakan lampu sepanjang waktu ,Diskriminatif Terhadap Aturan UU No. 22 Tahun 2009 Tentang LLAJ Pasal 107 ayat 1

Madiun,Sinarpolitan.com.Aturan yang mengharuskan kendaraan roda dua (R2) untuk menyalakan lampu utama pada siang hari sangat dirasa menjadi aturan yang diskriminatif. Sebab, bagaimana bisa aturan tersebut hanya berlaku pada R2 saja dan tidak pada kendaraan lain hanya dengan alasan menekan angka laka lantas?

Hal ini tercermin pada pasal 107 ayat (1) dan (2) UU No. 22 Tahun 2009 tentang LAJ. Pada Pasal 107 ayat (1) UULAJ itu mengatakan bahwa seluruh kendaraan wajib menyalakan lampu utama pada malam hari dan keadaan tertentu saja. Sedangkan pada pasal 107 Ayat (2) UULAJ mengharuskan R2 untuk menyalakan lampu utama sepanjang waktu.

Apakah bukan suatu bentuk diskriminasi? Padahal dalam asas dasar hukum, hukum itu dibuat tidak boleh diskriminatif (Equality Before The Law).Minggu (15/11/2020) Supremasi Hukum belum adil untuk rakyat kecil dan Menengah

Namun, dalam UULLAJ tersebut nyata-nya tidak demikian. Aturan tersebut dirasa pilih kasih, sebab hanya R2 (roda dua) yang diwajibkan, sedangkan untuk jenis ranmor yang lain tidak.

Hal itu sangat berpengaruh terhadap umur dari lampu ranmor. Sebab, umur lampu utama tergantung dari jam digunakankannya.
Apabila dikaitkan dengan penekanan kecelakaan lalu lintas (laka lantas), maka kenapa tidak semua kendaraan diwajibkan?. Para pembuat dan perancang undang undang perlu dipertanyakan alasannya tentang penelitian tersebut apakah hanya mengikuti langkah Negara lain atau adakah titipan dari produsen lampu sepeda motor ?.

Karena jika dianalogi terkait penekanan jumlah laka lantas, maka sudah sangat jelas bahwa seharusnya aturan menyalakan lampu utama tidak hanya untuk sepeda motor saja melainkan untuk kendaraan bermotor lainnya. Tapi jika dianalogikan sebagai pasal titipan dari produsen lampu sepeda motor, maka sangat logis sekali bahwa semakin sering dipergunakan maka semakin cepat ganti lampu tersebut.

Inilah yang harusnya ditelisik lebih dalam oleh seluruh masyarakat, terlebih para pakar hukum. Supaya tidak terjadi suatu sikap diskriminatif yang di tuangkan dalam suatu aturan perundang-undangan. Sebab, ada satu adegium yang sangat familiar yaitu Fiat Yustitia Ruat Caelum yang artinya Tegakkan kebenaran walaupun langit akan runtuh.(Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *